Pemikiran Manusia Tentang Ketuhanan

Standar

pemikiran manusia dalam berbagai masalah, hasilnya akan bervariasi. Hal ini disebabkan oleh pandangan manusia yang meyakinkan atau memungkinkan berubha dan mengubah. Sifat utama pemikiran manusia adalah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pemikiran manusia tentang tuhan dan ketuhanan berubah sejalan dengan perubahan daya nalarnya. Sebab itu kesimpulan yang dihasilkan antara satu masyarakat pada situasi dan kondisi tertentu tentang tuhan dan ketuhanan, mungkin berbeda dengan kesimpulan masyarakat yang hidup pada situasi dan kondisi lainnya. Cepat atau lambat perubahan pemikiran manusia sangat tergantung pada situasi dan kondisi manusia.

Pemikiran manusia tentang tuhan dan ketuhanan pada masyarakat primitive berbeda dengan pemikiran masyarakat modern. Cirri khas masyarakat primitive adalah sifatnya yang sederhana. Sebaliknya, masyarakat modern yang mempunyai cirri khas multi dimensional (ragam dimensi), walaupun pada akhirya, masyarakat yang primitive dikatakan modern dan yang modern sesungguhnya adalah priimitif. Sesuai dengan kesederhanaannya masyarakat primitive memandang bahwa kehidupannya ditentukan oleh keyakinan pada kekuatan suatu benda, yang dipandangnya mempunyai kekuatan. Benda –benda yang dimaksud dijadikan benda keramat yang lazim disebut azimat (jimat dalam bahasa jawa). Kepercayaan kepada benda yang mempunyai kekuatan disebut dinamisme. Tuah atau fetish pada benda tertentu yang mereka yakini perlu dijaga dan dirawat, agar tidak menimbulkan akibat negative terhadap diri dan keluarga serta masyarakatnya. Untuk itu mereka mepengorbanan sesuai dengan pesan dukun ( orang yang dipandang ahli dalam bidang perjimatan). Persembahan (sembahyang) yang diberikan kepada benda-benda keramat itu dilakukan tanpa boleh bertanya. Kalau kata dukun harus melakukan sesuatu, mereka melakukannya tanpa tanya. Dengan demikian, di masyarakat primitive dinamisme, benda-bendalah yang menjadi tuhan mereka, sedangkan dukun atau pawing sebagai nara sumber sesajian sebagai bentuk pengabdiannya.

Bentuk kepercayaan lain pada masyarakat prmitif, yaitu animisme (anima=roh). Masyarakat penganut animisme berkeyakinan, bahwa suatu benda mempunyai roh ( sebangsa makhluk ghaib) didalamnya. Sesajen yang dikorban bertujuan agar roh yang ada pada benda tersebut tidak marah. Roh diyakii sebagai pemilik benda-benda alam tertentu, misalnya pohon atau hewan yang dipandang mempunyai keanehan. Jika ditengah areal persawahan, ada pohon yang besar lagi rimbun sedangkan disekitarnya tidak ada pepohonan, maka pohon itu diyakini masyarakat dikuasai yang menjaganya. Agar seseorang mendapatkan sesuatu dari pohon tersebut atau terhindar dari bencana, mereka melakukan sesembahan dalam bentuk sesajen. Bagi mereka benda-benda yang dianggap berjasa terhadap kehidupannya itulah yang dianggap sebagai tuhan.

Di lingkungan buruh tani tradisional, cangkul merupakan alat utama yang mampu menghidupi diri dan keluarganya. Dengan alat cangkul dia memperoleh imbalan (upah), bias menghidupi diri dan keluarganya. Baginya cangkul yang dapat membuat dia hidup. Dari sekian banyak cangkul, ada cangkul yang dipandang mempunyai nilai lebih. Biasanya cangkul yang demikian itu disanjung dan dipuja.

Latar belakang munculnya benda-benda kebanggan seperti cangkul, karena kesesuaian alat yang dipakai seseorang dengan kondisi dirinya. Seseorang yang telah terbiasa dengan menggunakan cangkul tertentu, dia akan merasakan tidak cocok apabila mempergunakan cangkul lainnya. Cangkul yang sudah dijadikan pegangan sehari-hari oleh seseorang walaupun harganya lebih murah dan kualitasnya lebih jelek dibandingkan dengan cangkul yang lainnya, akan cocok dan enak dipakai olehnya. Ketika memakai cangkul lain yang harganya lebih mahal, dan kualitasnya lebih baik, dia merasa kurang cocok. Itulah sebabnya cangkul itulah dia nyatakan mempunyai kelainan dari cangkul-cangkul yang lain. Atas dasar itu cangkul tersebut dianggap mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan cangkul yang lain. Dalam benak mereka tidak tergambar factor-faktor lainnya, seperti kelenturan tubuh karena kebiasaan, membuat cocok atau tidaknya alat yang dipakainya waktu bekerja.

Jika pada masyarakat primitive setiap benda yang mempunyai kelainan dengan benda sejenisnya bias jadi dianggap sebagai tuhan, maka semakin luas jangkauan pemikiran semakin banyak tuhan yang harus disembah. Hal ini tentu akan merepotkan. Bayangkan betapa beratnya pengorbanan mereka, jika setiap benda yang dikagumi dinyatakan sebagai tuhan. Karena itu mereka cenderung menyederhanakan jumlah yang mereka sembah. Caranya dengan mengelompokkan benda-benda itu  atau hewan sejenis menjadi satu kelompok yang dikoordinasikannya. Koordinatornya itulah yang disebut dengan dewa atau dewi. Masing-masing dewa atau dewi berperan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kepercayaan terhadap para dewa atau dewi inilah yang disebut dengan politeisme (poli=banyak). Di sebagian masyarakat jawa misalnya, mereka berkeyakinan Dewi Sri, (dewi kesuburan) pengatur tanaman padi. Saat petani hendak memanen padinya, pada tahap awal dilakukan sesembahan dalam bentuk sesajen dengan istilah mapag sri (menjeput Dewi Sri), para nelayan pada hari tertentu yang dipandang mempunyai nilai sejarah atau mengadakan pesta yang yang dikenal dengan nadran. Pada pucak acara tersebut mereka membuang kepala kerbau ke bagian laut tertentu yang dipandang sebagai tempat Dewa Matahari (Ra dalam bahasa mesir).

Tampaknya politeisme (banyak tuhan) merupakan peningkatan dari dinamisme dan animisme. Jika pada animisme dan dinamisme berbagai benda atau yang dianggap benda dapat berkedudukan menjadi Tuhan, maka orang harus mengorbankan sesuatu kepada Tuhan yang jumlahnya tidak terhitung. Jika hal ini dilakukan, pengeluaran atau sesembahan yang harus ditanggung oleh manusia memberatkan. Sebab itu mereka berpikir untuk mengurangi bebannya, dengan hanya memberikan kepada koordinatornya saja, yaitu dewa atau dewi, sehingga jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan dinamisme atau animisme.

Paham Henoteis  (satu bangsa=satu tuhan), sebgai peningkatan paham poleteisme. Dasar pemikiran paham ini, bahwa setiap satu kesatuan tidak mungkin diatur oleh lebih dari satu pengatur. Masyarakat pada hakikatnya merupakan satu kesatuan. Atas dasar itu setiap bangsa tidak mungkin diatur oleh lebih diatur oleh lebih dari satu pengatur atau Tuhan. Menurut paham ini jumlah Tuhan setiap bangsa hanya ada satu. Setiap bangsa mempunyai Tuhan yang berbeda dengan bangsa lainnya.

One response »

  1. TUHAN ARTINYA TUAN YANG BERSIFAT INSANI BERSIFAT ILAHI.. ITULAH KATA ARTI TUHAN BUKAN SOSOK NYA MANUSIA ATAU MAKHLUK YANG DI JADIKAN.. SEBELUM KESEMUANYA JADI.. AKU SUDAH ADA AZALI ABADI DAN BUKAN DIRI. KATA NABI ” LA ILAHA ILA ANA.. KESEMUANYA TIADA KECUALI AKU ” SALAAM SETUNGGAL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s