Puisi Lawas

Standar

Sumber

Kulonprogo Akhir Juni

Aku kenali liku-liku.
Garis persilangan penjuru timur kotamu
Hiruk pikuk di tengah Alun-alun tua
Pemuda berkejaran ke ambang arena
Melesatkan impian yang dibangun
Oleh masa yang sama sejarahnya.
Tugu atau prasasti namanya
Menghempas sanggul lukar kebaya
Di kampung pribumi
Tumpah darah dan aliri bantaran sungai
Untuk buangan mereka
“Ini adalah kota di mana engkau dilahirkan
di perbatasan, bangun dengan keringat dan hati suci
gelar kerja hidup matimu.”

Di sini aku termangu
Menatap genangan hijau di bawah pandang
Kampung yang mencair. Sawah pun berubah bah
Sekawanan kampung tenggelam dalam bungkam
Sebab tak lebih lantang dan perkasa
Dari seonggok padas beratas nama
Tapi, Sayang
Cintaku takkan tenggelam

Aku tapaki tangga tepi samudramu
Ketika kutatap kapal nelayan hanya merapat
Tak berlayar di antara rasi bintang
Ombak mengamuk di kedalaman samudera
Bulan mati di pelelangan selalu seperti hari berlalu
Nelayan sangsi memilih terbalik kuali
Dapur tak berasap sampai tepi kali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s